Andi Nusli Salahuddin (Kaka Ully), Penggerak Wisata Lokal saat berada di Gua Kumapo Wulu, Kabupaten Konawe Utara.HALUANSULTRA.ID, KONAWE UTARA – Kabupaten Konawe Utara tak hanya dikenal dengan potensi tambang nikel, pertanian, perkebunan, dan kelautannya. Di balik kemegahan sumber daya alamnya, tersimpan pula jejak peradaban manusia masa lampau yang masih terjaga dengan baik.
Salah satu buktinya dapat ditemukan di Gua Kumapo Wulu, sebuah situs purba yang menyimpan kisah panjang kehidupan nenek moyang masyarakat Wiwirano. Gua ini terletak di Desa Padalere Utama, Kecamatan Wiwirano, berjarak sekitar 175 kilometer dari Kota Kendari atau lima jam perjalanan darat, dan 75 kilometer dari Wanggudu, ibu kota Kabupaten Konawe Utara.
Perjalanan menuju kawasan ini relatif mudah karena melewati jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Setibanya di Padalere Utama, suasana pedesaan yang asri, pepohonan rimbun, serta udara sejuk akan menyambut setiap pengunjung, seolah membawa mereka menembus waktu ke masa lampau.
Gua Kumapo Wulu tidak hanya menjadi objek wisata alam yang menakjubkan bagi pengunjung, tetapi juga situs bersejarah yang menyimpan peninggalan prasejarah. Jika anda berkunjung, akan melihat lukisan purba di dinding batu, sisa kerang laut, serta benda-benda prasejarah lain yang telah membatu di dalam terowongan gua.
Bagi masyarakat setempat, kawasan ini bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang sakral dan spiritual yang menjadi simbol kebersamaan serta warisan budaya leluhur.
Menurut Andi Nusli Salahuddin, penggerak wisata lokal Konawe Utara mengatakan, Kumapo Wulu merupakan salah satu situs penting yang merekam jejak peradaban lama masyarakat Wiwirano.
“Kumapo Wulu ini bukan hanya tempat bersejarah, tapi juga simbol dari peradaban lama masyarakat Wiwirano. Dulu di sini menjadi pusat aktivitas, tempat bermusyawarah, dan menjalankan tradisi leluhur,” ujar pria yang akrab disapa Kaka Uly ini, Minggu (30/11/2025).
Ia menjelaskan, keaslian dan kelestarian kawasan ini masih terjaga secara alami tanpa banyak tersentuh modernisasi. “Kalau yang menarik dari Kumapo Wulu, semuanya masih asli. Alamnya masih perawan, dan masyarakat sangat menghormati tempat ini. Mereka sadar, ini bukan sekadar lahan kosong, tapi warisan yang harus dijaga,” tambahnya.
Untuk mencapai lokasi Gua Kumapo Wulu, pengunjung harus menyusuri Sungai Lalindu menggunakan sampan selama kurang lebih dua jam. Sepanjang perjalanan, panorama perbukitan hijau dan formasi batuan karst alami menghadirkan pemandangan yang memesona.“Kita harus menggunakan sampan untuk bisa mengakses Gua Kumapo Wulu. Setibanya di sana, suasananya sangat tenang seolah membawa kita untuk merenung dan menghargai masa lalu,” tutur Kaka Uly.
Ia menambahkan, struktur Gua Kumapo Wulu membentuk labirin alami yang saling terhubung antar lorong. Pintu masuk goa setinggi sekitar lima meter, namun semakin ke dalam, lorongnya menyempit dan udara terasa lembap serta sesak.
Selain itu, di dalam gua ditemukan lukisan purba yang diyakini berusia ribuan tahun. Lukisan tersebut pernah menjadi objek penelitian para arkeolog dari luar negeri, meski hasil penanggalan resminya belum dipublikasikan.
Sayangnya, beberapa coretan tangan pengunjung yang tidak bertanggung jawab juga ditemukan di sekitar lukisan tersebut. “Masih bisa dibedakan mana lukisan purba yang asli dan mana coretan baru buatan pengunjung,” ujar Kaka Uly menyesalkan.
Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Konawe Utara, Riyas Aritman, mengungkapkan bahwa Goa Kumapo Wulu termasuk dalam kawasan wisata Matarombeo yang sedang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Konawe Utara.
“Goa Kumapo Wulu menjadi salah satu objek wisata unggulan yang akan dikembangkan secara berkelanjutan. Kami ingin menjadikannya destinasi budaya dan sejarah yang bernilai edukatif,” jelasnya.
Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat belasan goa dan danau alami di wilayah Desa Padalere Utama, di antaranya Gua Kumapo Wulu, Rukuo 1 dan 2, Mata Uso, Kumapo Tangke, Kumapo Wita Teresa, Kumapo Wuku Ulu, Danau Liuka 1 dan 2, Danau Onuna, serta Lapada.
Selain itu, di Desa Wawantoaho ditemukan tiga Gua Tengkorak, dan satu Gua Terowongan berada di Desa Tete Watu. Semua situs ini masih berada dalam wilayah administratif Kecamatan Wiwirano.
Ia berharap, pengembangan Gua Kumapo Wulu nantinya dilakukan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan kesakralannya. “Wisata itu bukan hanya soal pemandangan indah, tapi tentang cerita yang hidup di dalamnya. Kumapo Wulu punya cerita besar tentang asal-usul, kebersamaan, dan kearifan yang diwariskan turun-temurun,” pungkasnya. (Hel)

Tidak ada komentar