Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd HALUANSULTRA.ID – Ramadan kerap dipahami sebagai bulan perlambatan. Di sejumlah instansi, ritme kerja menurun. Di dunia pendidikan, jam pelajaran dipangkas, perkuliahan dirampingkan, dan suasana akademik terasa lebih lengang. Penyesuaian waktu tentu bagian dari ikhtiar menjaga energi serta memberi ruang lebih luas untuk ibadah. Namun pertanyaannya, apakah puasa identik dengan kelesuan produktivitas?
Allah SWT, telah menegaskan tujuan puasa dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah (2): 183), dilansir dari laman resmi Kemenag.
Tujuan puasa adalah takwa-kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas. Dalam pandangan Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (abad ke-11), takwa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga seluruh potensi diri agar selaras dengan nilai Ilahiah. Artinya, puasa justru melatih disiplin, pengendalian diri, dan fokus—tiga unsur utama dalam produktivitas.
Dalam teori motivasi modern, Abraham Maslow (1943) menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan manusia. Ramadan memberi ruang refleksi yang dalam sehingga kerja tidak lagi sekadar rutinitas administratif, melainkan jalan pengabdian.
Ketika pekerjaan diniatkan sebagai ibadah, motivasi intrinsik menguat. Bahkan Max Weber (1905) pernah menunjukkan bagaimana etika keagamaan dapat membentuk etos kerja yang kuat. Dalam Islam, etos itu ditegaskan Nabi Muhammad saw. melalui sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Keberagamaan tidak pernah dimaksudkan untuk menjauh dari produktivitas sosial.
Sejarah Islam membuktikan bahwa Ramadan bukan bulan stagnasi. Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah. Fathu Makkah juga berlangsung di bulan suci. Dalam kondisi berpuasa, para sahabat justru menorehkan tonggak sejarah peradaban. Secara fisik mereka menahan lapar, tetapi secara spiritual mereka berada pada puncak kekuatan. Ini menunjukkan bahwa energi manusia tidak hanya bersumber dari asupan jasmani, melainkan dari kekuatan makna dan keyakinan.
Dalam konteks kekinian, saya teringat pada sosok Karim Benzema saat membela Real Madrid. Di bulan Ramadan, performanya tetap impresif dan gol-gol penting lahir dari kakinya. Secara logika energi, puasa dianggap mengurangi daya fisik. Namun faktanya, disiplin spiritual justru melahirkan fokus dan ketahanan mental yang lebih tajam.
Fenomena serupa kita lihat di lingkungan sekitar: menjelang berbuka, anak-anak muda bermain sepak bola, berlari, dan beraktivitas. Jika ditinjau dari sisi energi, mengapa justru ada sisa tenaga untuk berolahraga? Di sinilah letak keajaiban Ramadan—ia menguatkan batin sehingga tubuh mengikuti irama semangat itu.
Memang pada hari-hari pertama puasa, tubuh masih beradaptasi. Terlebih bagi yang tidak membiasakan diri berpuasa sunnah di Rajab atau Sya’ban, tantangannya terasa lebih berat. Namun adaptasi adalah bagian dari pendidikan karakter. Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Allah SWT juga berfirman, “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10). Ayat ini menegaskan keseimbangan antara ibadah ritual dan aktivitas produktif. Selesai beribadah, manusia diperintahkan untuk bergerak, berkarya, dan memberi manfaat.
Dalam dunia pendidikan, penyesuaian jam belajar bisa menjadi kebijakan teknis yang bijak. Namun pengurangan durasi tidak boleh identik dengan penurunan kualitas. Justru Ramadan dapat menjadi momentum pembelajaran bermakna.
Sebagai dosen muda, saya sering mengajak mahasiswa untuk melihat bulan puasa sebagai laboratorium karakter: datang tepat waktu meski lapar, tetap berdiskusi dengan jernih walau energi terbatas, dan menjaga integritas akademik dalam kondisi tidak prima. Nilai-nilai inilah yang membentuk kepemimpinan diri.
Rektor Universitas Islam Bandung pernah menyampaikan dalam sebuah forum bahwa puasa bukan alasan untuk berhenti bekerja, melainkan dorongan untuk bekerja lebih giat agar keberkahan semakin terasa. Pernyataan ini selaras dengan pesan Islam tentang keseimbangan antara spiritualitas dan profesionalitas.
Ramadan bukan bulan kelesuan, melainkan bulan akselerasi ruhani. Ia menguatkan kontrol diri, memperdalam makna kerja, dan menumbuhkan solidaritas sosial. Produktivitas di bulan puasa bukan semata diukur dari panjangnya jam kerja, tetapi dari kualitas niat, kedalaman makna, dan keberkahan hasilnya.
Jika para sahabat mampu mengukir sejarah dalam keadaan berpuasa, jika atlet profesional tetap mencetak prestasi di tengah lapar dan dahaga, maka dunia pendidikan dan birokrasi pun semestinya mampu menjaga bahkan meningkatkan kinerja. Di situlah esensi Ramadan: menguatkan ruh, menajamkan akal, dan menggerakkan amal. (Hms)
Penulis Adalah Dosen Muda UIN SGD Bandung & STIT Az Zahra Tasikmalaya, Awardee LPDP BIB Kemenag 2025, Mahasiswa Program Doktor Universitas Pendidikan Indonesia

Tidak ada komentar