9 WNI Disiksa Zionis Israel Sebelum Dibebaskan

waktu baca 3 menit
Jumat, 22 Mei 2026 14:46 1265 Admin HS

HALUANSULTRA.ID – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) termasuk dua warga Sulsel yang tergabung dalam relawan Global Sumud Flotilla 2.0, akhirnya dibebaskan oleh militer Israel setelah sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot usai misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul menyampaikan, saat ini sembilan warga negara Indonesia (WNI) dalam kapal Global Sumud Flotilla (GSF) yang sebelumnya diculik oleh Israel kini telah tiba Turki. Kepala Perwakilan Konsul Jenderal RI di Istanbul, Darianto Harsono, menyampaikan bahwa para WNI tersebut telah tiba di Turki dalam keadaan sehat.

“Kami, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Istanbul, alhamdulillah hari ini bersama-sama sembilan saudara-saudari kita yang bergabung dalam misi GSF, Global Sumud Flotilla, telah bersama kami dalam kondisi sehat walafiat,” kata Darianto dalam keterangan pers yang disampaikan melalui Instagram, Jumat (22/5/2026).

Darianto menjelaskan bahwa para sembilan WNI tersebut mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan hingga penyetruman. Dia menegaskan bahwa pihak pemerintah Indonesia akan mengurus kepulangan hingga kediaman mereka masing-masing. “Walaupun mereka selama tiga-empat hari mengalami kekerasan fisik, ada yang ditendang, dipukul, ataupun disetrum,” ujarnya.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah memerintahkan agar seluruh aktivis Global Sumud Flotilla segera dideportasi keluar dari wilayah Israel.

Branch Manager Rumah Zakat Indonesia Timur, Amir, mengatakan informasi mengenai deportasi tersebut menjadi pertanda baik bagi keluarga para relawan yang selama ini menunggu kepastian kondisi anggota keluarganya

“Itu juga kami dapatkan, ada perintah (untuk yang ditangkap dideportasi), tapi mudah-mudahan ini menjadi kabar gembira untuk kita semua bagi keluarga dan masyarakat di Indonesia untuk segera dibebaskan,” kata Amir kepada wartawan disela aksi solidaritas relawan di Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Kamis 21 Mei 2026.

Amir menegaskan seluruh relawan yang tergabung dalam misi kemanusiaan tersebut tidak membawa senjata maupun melakukan tindakan perlawanan selama menjalankan pengiriman bantuan untuk warga Palestina.

“Karena tidak ada alasan untuk menahan, misi kami hanya ingin membantu saudara kami di Palestina yang di blokade, kami membawa bantuan, tidak ada juga unsur perlawanan lewat senjata,” tegasnya.

Sementara itu, Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) memastikan seluruh relawan Global Sumud Flotilla 2.0 telah dibebaskan dari fasilitas penahanan Israel dan saat ini sedang menjalani proses deportasi keluar dari wilayah tersebut. Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, mengatakan pembebasan diperoleh setelah pihaknya menerima konfirmasi resmi dari tim hukum dan sumber diplomatik internasional pada Kamis 21 Mei 2026.

“Seluruh delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot telah dibebaskan dari fasilitas penahanan Israel. Para delegasi saat ini sedang dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari wilayah Israel,” ujar Harfin. Para relawan disebut akan dipulangkan melalui jalur deportasi menuju Istanbul, Turki.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyatakan pemerintah telah mengupayakan pemulangan sembilan WNI tersebut dengan memastikan keselamatan mereka selama proses berlangsung. Ia juga telah menginstruksikan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk berkoordinasi melalui jalur diplomatik, termasuk dengan Yordania dan Turki, agar dapat berkomunikasi dengan pihak terkait di Israel. “Pemerintah Indonesia berharap seluruh WNI dapat segera kembali ke Tanah Air dalam kondisi selamat dan lengkap,” jelasnya.

Berdasarkan data GPCI, sembilan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza, Palestina, yakni Andi Angga Prasadewa, Bambang Noroyono alias Abeng, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, Rahendro Herubowo, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo. Dua relawan berasal dari Sulawesi Selatan, yakni Andi Angga Prasadewa asal Kota Makassar serta Asad Aras Muhammad asal Kabupaten Sinjai. (Hms/Herald.id)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA
    x