Ketua Golkar Tewas Ditikam di Bandara : Dendam Lama, Satu Pelaku Atlet MMA

waktu baca 2 menit
Senin, 20 Apr 2026 08:06 746 Admin HS

HALUANSULTRA.ID – Siang itu seharusnya biasa saja di Bandara Karel Sadsuitubun. Pesawat datang dan pergi, penumpang berjalan tergesa, dan agenda politik lokal menunggu untuk dimulai. Namun dalam hitungan detik, suasana berubah drastis panik, kacau, dan mencekam.

Ketua DPD II Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, tewas setelah ditikam oleh dua orang tak dikenal sesaat setelah tiba dari Jakarta, Minggu (19/4) sekitar pukul 11.25 WIT. Ia datang untuk menghadiri Musyawarah Daerah (Musda), tapi justru disambut serangan yang mengakhiri hidupnya. Serangan terjadi cepat.

Polisi menyebut pelaku langsung menghampiri dan menikam korban saat hendak keluar dari area bandara. Tanpa banyak kata, tanpa peringatan panjang hanya aksi brutal yang langsung memicu kepanikan.

Video yang beredar memperlihatkan suasana yang pecah seketika. Orang-orang berlarian, sebagian mencoba menjauh, sebagian lagi terpaku. Nus Kei terlihat masih bergerak setelah kejadian, napasnya tersengal saat petugas medis berusaha memberikan pertolongan darurat di lokasi.

Ia kemudian dilarikan ke RS Karel Sadsuitubun. Namun upaya penyelamatan tidak berhasil. Luka yang diderita terlalu parah. Polisi bergerak cepat. Dua pelaku berinisial HR (28) dan FU (32) berhasil ditangkap tidak lama setelah kejadian. Salah satunya diketahui merupakan atlet MMA fakta yang menambah dimensi lain dalam kasus ini.

Dilansir dari Herald.di, motif sementara dendam lama. Kapolres Maluku Tenggara menyebut, konflik antara pelaku dan korban sudah terjadi sebelumnya di Jakarta. Meski detailnya belum dibuka sepenuhnya, benang merahnya mulai terlihat: ini bukan serangan acak, melainkan akumulasi dari persoalan lama yang berujung fatal.

Peristiwa ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ia terjadi di ruang publik, di tengah aktivitas sipil, dan melibatkan tokoh politik daerah. Artinya, dampaknya bukan hanya pada keluarga korban, tetapi juga pada stabilitas sosial dan rasa aman masyarakat.

Di tengah meningkatnya tensi politik lokal dan dinamika kekuasaan, insiden ini menjadi alarm keras: konflik personal yang dibiarkan membara bisa meledak di ruang publik kapan saja. Siang di bandara itu kini menyisakan satu hal yang sulit dihapus—bahwa kekerasan bisa datang tanpa aba-aba, bahkan di tempat yang seharusnya paling aman. (bs/Herald.id)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA
    x