Melihat Jauh ke Dalam Diri, 5 Pesan Kehidupan dari Gubernur Sultra, Oleh : Andi Syahrir

waktu baca 6 menit
Minggu, 24 Mei 2026 12:55 2582 Admin HS

HALUANSULTRA.ID – Ada kalanya hidup tidak membutuhkan pidato yang panjang. Cukup satu kalimat sederhana yang mampu mengetuk kesadaran paling dalam.

Di tengah hiruk-pikuk politik dan rutinitas pemerintahan, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka (ASR) kerap menghadirkan pesan-pesan kehidupan yang mengajak orang untuk berhenti sejenak, menundukkan ego, lalu melihat lebih jauh ke dalam diri sendiri.

Pesan-pesan itu bukan sekadar petuah seremonial. Pun tidak hanya disampaikan sambil lalu. ASR mengulangnya di setiap kesempatan. Saat bersama dengan jajaran birokrasi, pun ketika berpidato di hadapan banyak orang.

ASR hendak mengajak untuk berhenti sejenak, merenung, dan berdialog dengan mata hati. Pesan-pesan reflektif itu ada yang bernada puitis. Ada yang metaforis. Ada lima pesan yang kerap dititipkannya, yang dirangkum dalam tulisan ini.

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝗠𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗜𝘁𝘂 𝗧𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴, 𝗝𝗶𝗸𝗮 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗠𝗮𝘁𝗮

Kebenaran dan kebaikan itu nyata seperti terangnya matahari. Masalahnya, maukah kita membuka mata untuk melihatnya?

Jika kita menutup mata karena ego, kebencian, atau perbedaan pandangan, maka dunia akan terlihat gelap gulita. Kita akan terjebak dalam bias, sibuk mencari-cari celah buruk, seolah-olah seluruh ruang telah kehilangan cahayanya.

Menjadi objektif berarti berani jujur. Jika ada hal baik yang telah diperbuat, akui dan katakan itu baik. Menghargai keberhasilan orang lain tidak akan meredupkan cahaya kita sendiri, justru itu membuktikan bahwa kita memiliki jiwa yang lapang dan mata yang mampu melihat kebenaran. Jangan biarkan prasangka menutup mata kita dari terangnya kenyataan.

Menolak melihat kebaikan orang lain sama saja dengan memejamkan mata di siang bolong, lalu mengeluh bahwa dunia ini gelap.

𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚, 𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐒𝐞𝐠𝐞𝐥𝐚𝐬 𝐀𝐢𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐠𝐞𝐥𝐚𝐬 𝐌𝐚𝐝𝐮

Ketika seekor lalat jatuh ke dalam segelas air putih, kita tanpa ragu membuang seluruh airnya. Namun, ketika lalat yang sama jatuh ke dalam segelas madu, kita hanya akan membuang lalatnya dan mempertahankan madunya.

Mengapa perlakuannya berbeda? Jawabannya ada pada nilai rasa dan substansi di dalamnya. Filosofi ini adalah cerminan dari kedalaman hati manusia.

𝐇𝐚𝐭𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐚𝐢𝐫 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡 —murah dan rapuh— akan mudah tercemar. Saat orang lain berbuat satu kesalahan, ia akan melupakan seluruh kebaikan yang pernah ada. Baginya, satu noda merusak segalanya.

𝐇𝐚𝐭𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐦𝐚𝐝𝐮 memiliki benteng nilai yang kokoh. Ketika kesalahan datang, ia tidak akan menghancurkan hubungan atau melenyapkan budi baik yang telah terpupuk lama. Orang yang berhati bersih akan memilih untuk memaafkan kesalahan (membuang lalatnya) dan merawat kebaikan (mempertahankan madunya).

Orang yang berhati keruh membuang seluruh kebaikan demi satu kesalahan. Orang yang berhati bersih membuang satu kesalahan demi merawat ribuan kebaikan.

𝐊𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚, 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧 𝐈𝐭𝐮 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐚𝐧

Menjadi pemimpin bukanlah tentang naik takhta untuk dilayani, melainkan turun ke arena untuk siap menghabiskan diri demi mereka yang dipimpin.

Sekali kaki melangkah dan takdir menetapkan seseorang sebagai pemimpin, sejak saat itulah hak-hak pribadinya telah selesai. Pemimpin adalah payung di kala hujan dan tameng di garis depan. Ia tidak lagi sepenuhnya milik diri sendiri atau keluarganya, melainkan telah menjadi milik rakyatnya.

Di jalan kepemimpinan, pengorbanan adalah menu sehari-hari.

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧. Pemimpin harus berlapang dada menerima kritik, bahkan siap mental ketika dedikasinya dibalas dengan caci maki. Baginya, pujian tidak membuatnya terbang, dan cacian tidak membuatnya tumbang.

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐏𝐫𝐢𝐛𝐚𝐝𝐢. Kepentingan publik selalu berdiri jauh di depan ambisi pribadi atau golongan. Kenyamanan diri adalah hal pertama yang harus dikesampingkan.

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐒𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢. Baik itu waktu, pikiran, tenaga, hingga harta benda, semuanya dipertaruhkan untuk memastikan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.

Kepemimpinan sejati adalah jalan sunyi yang penuh riak. Ia adalah seni menderita demi kebahagiaan orang banyak. Sebab pada akhirnya, kehormatan seorang pemimpin tidak diukur dari apa yang berhasil ia kumpulkan, melainkan dari seberapa banyak yang telah ia korbankan.

Sekali ditakdirkan memimpin, ego harus mati. Pemimpin adalah mereka yang selesai dengan dirinya sendiri, lalu menyediakan dadanya untuk kritik dan menyerahkan hidupnya untuk pengabdian.

𝐊𝐞𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭, 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐌𝐚𝐦𝐩𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐢 𝐆𝐚𝐣𝐚𝐡, 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐓𝐚𝐤 𝐌𝐚𝐦𝐩𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐢 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐭𝐮𝐧𝐲𝐚

Membangun yang megah itu mudah, yang sulit adalah merawatnya dengan konsisten. Jangan sampai kita bangga mampu “membeli gajah”, namun membiarkannya mati kelaparan hanya karena enggan mengurusnya.

Filosofi ini adalah refleksi mendalam atas realitas tata kelola pembangunan kita. Seringkali, kita begitu bersemangat menggelontorkan anggaran besar demi mendirikan fasilitas fisik yang megah, mewah, dan monumental.

Namun ironisnya, setelah gunting pita usai, bangunan-bangunan itu perlahan berubah menjadi “monumen mati”—terbengkalai, rusak, dan akhirnya hancur tak terpakai.

Kita terjebak dalam sindrom mampu membeli “gajah” (proyek besar), tetapi gagal menyediakan “sepatunya” (keberlanjutan fungsi).

Padahal, esensi dari sebuah pembangunan bukanlah pada seberapa besar anggarannya, melainkan seberapa panjang asas manfaatnya bagi masyarakat. Merawat apa yang sudah ada sebenarnya tidak menuntut anggaran baru yang fantastis. Yang dibutuhkan hanyalah satu hal yang seringkali mahal harganya, yakni komitmen dan rasa memiliki.

Pemerintahan yang bijak adalah pemerintahan yang tidak hanya hobi memulai, tetapi juga setia merawat. Sebab, membiarkan fasilitas publik rusak karena kelalaian adalah bentuk pemborosan ruang dan anggaran yang paling nyata. Jaga apa yang telah dibangun, karena di sana ada hak rakyat yang harus terus hidup.

Jangan bangga bisa membangun fasilitas raksasa jika kita gagal menjaga hal-hal kecil di dalamnya. Kemampuan merawat adalah cerminan dari kematangan sebuah kepemimpinan.

𝐊𝐞𝐥𝐢𝐦𝐚, 𝐌𝐞𝐭𝐚𝐟𝐨𝐫𝐚 𝐊𝐮𝐫𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐨𝐭𝐚𝐧

Saat sebatang rotan telah dibilah, dibakar, dan ditekuk menjadi kursi, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi rotan yang lurus. Karakter manusia pun demikian: ia dibentuk, bukan mendadak jadi.

Filosofi ini memberikan gambaran tentang pentingnya fondasi pendidikan karakter. Rotan yang masih muda bersifat lentur, ia mudah diarahkan dan dibentuk. Namun, begitu rotan itu melewati proses panjang hingga mengeras menjadi sebuah kursi, bentuknya telah permanen. Mustahil mengembalikannya ke wujud semula tanpa mematahkannya.

Di dunia pendidikan dan pola asuh, anak-anak adalah rotan muda tersebut. Masa kanak-kanak dan remaja adalah fase krusial di mana jiwa mereka masih “lentur” dan siap menyerap apa saja.

Jika sejak dini mereka tidak dibiasakan dengan kedisiplinan, kejujuran, dan nilai-nilai kebaikan, maka setelah dewasa —saat mereka telah “menjadi kursi” di tengah masyarakat— tabiat dan kebiasaan buruk itu akan mengeras dan sangat sulit untuk diubah. Kebiasaan masa kecil adalah cetak biru masa depan mereka.

Membentuk manusia tidak bisa menunggu mereka dewasa. Menanamkan karakter mulia harus dimulai dari ruang-ruang kelas paling awal dan meja makan di rumah. Karena mendidik anak-anak adalah tentang membentuk “kursi” yang kokoh dan indah, agar kelak saat mereka memimpin dan memegang peran di masyarakat, mereka membawa kualitas terbaik yang tak lagi tergoyahkan.

Jangan terlambat menanamkan kebaikan. Karakter manusia seperti rotan. Jika sudah mengeras menjadi kursi, ia tidak akan bisa ditekuk kembali tanpa mematahkannya.

Lima pesan yang terus diulang oleh ASR adalah cermin yang diam-diam memantulkan wajah kita sendiri. Tentang bagaimana kita memandang orang lain, memperlakukan kesalahan, memaknai pengorbanan, menjaga amanah, dan membentuk generasi masa depan.

Di tengah zaman yang bergerak serba cepat, manusia sering kehilangan waktu untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Padahal, kehancuran paling sunyi sering dimulai ketika hati tak lagi mampu membedakan mana cahaya dan mana gelap, mana kritik dan mana kebencian.

Pesan-pesan itu mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi jabatan yang dicapai atau seberapa besar yang berhasil dibangun. Lebih dari itu, hidup adalah tentang seberapa jernih mata melihat kebaikan, seberapa luas hati memaafkan, seberapa tulus pengabdian diberikan, dan seberapa kuat karakter diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena gemerlap yang pernah dimilikinya, melainkan karena nilai-nilai baik yang berhasil ia tinggalkan di hati orang lain. (*)

  • Penulis Adalah Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Prov Sultra.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA
    x