Gunakan Pattern Interrupt dan Meme, Mahasiswa UHO Ajak Siswa SMKN 1 Kendari Lawan Hoaks AI

waktu baca 5 menit
Jumat, 18 Sep 2026 09:08 1970 Admin HS

HALUANSULTRA.ID – Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO), menggelar kegiatan Pekan Literasi AI Pemilu di SMKN 1 Kendari, Kamis, 18 September 2026, pagi.

Kegiatan ini mengusung tema “Pemilih Pemula di Era AI, Tantangan Komunikasi Politik Digital Menjelang Pemilu 2029, Tanya AI Boleh, Percaya Mentah-Mentah Jangan” sebagai respons terhadap ancaman manipulasi informasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif.

Agenda yang dilaksanakan oleh kelompok 5 menggunakan pendekatan edutainment (edukasi-entertainment) dengan metode pattern interrupt yang dirancang khusus untuk menjangkau pola atensi Gen Z. Kegiatan menghadirkan dua pemateri Septia Tania Saputri (sebagai koordinator kelompok 5), bersama Muflih Geryan Saputra Siregar. Mereka merancang materi presentasi, membuka sesi dengan slide bergaya meme ungu khas internet.

Septia Tania Saputri menuturkan, slide ini menampilkan pose “pseudo-mind” (telunjuk di pelipis) dengan teks overlay Use Common Sense dan Aku Cinta Indonesia. Slide ini disajikan tanpa narasi pembuka, menciptakan keheningan canggung selama 4 detik yang berfungsi sebagai hook attention sekaligus simbolisasi pentingnya jeda kritis sebelum menerima informasi.

“Memang kami sengaja menggunakan pattern interrupt dengan meme yang familiar di FYP TikTok siswa. Tujuannya bukan untuk lucu-lucuan, tapi untuk membongkar ekspektasi mereka bahwa sosialisasi literasi digital itu membosankan,” ucapnya wanita yang akrab disapa Rain.

“Setelah mereka tertawa dan rileks, baru kami masuk ke materi serius tentang cara verifikasi informasi” sambung Rain, kepada awak media ini, Jumat, 19 September 2026.

Metode ini, lanjut dia, terbukti efektif. Siswa yang awalnya pasif menjadi lebih responsif dan aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab, terutama saat membahas tiga kasus nyata manipulasi AI, deepfake presiden yang mengiklankan situs judi online, kloning suara untuk penipuan anak kecelakaan minta transfer, dan pembatalan Pemilu Rumania 2024 akibat operasi bot dan interferensi digital.

“Kami tidak mengajarkan siswa untuk anti-AI. Kami mengajarkan mereka untuk jadi auditor informasi. AI boleh dipakai, tapi harus diverifikasi dengan sumber resmi seperti KPU, BPS, atau media terverifikasi,” tambah dia.

Nah, yang membedakan kegiatan ini dari sosialisasi serupa adalah integrasi filosofi budaya Tolaki Mepokoaso (bersatu padu dalam gotong royong) sebagai kerangka etis untuk literasi digital. Konsep ini digagas oleh pemateri, Muflih Geryan Saputra Siregar.

Ia juga menyusun narasi rilis dan materi presentasi, dengan tujuan menjadikan literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis, tapi juga tanggung jawab kolektif untuk menjaga integritas demokrasi.

Siswa diajak memahami bahwa melawan hoaks bukan sekadar tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi berbagai kompetensi. Kegiatan ini mengintegrasikan empat kompetensi keahlian SMKN 1 Kendari ke dalam simulasi verifikasi.

Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ/TJKT) untuk forensik digital, Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) untuk audit angka klaim, Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP/Retail) untuk desain konten etis, dan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) untuk dokumentasi dan pelaporan.

Kreativitas visual kegiatan ini juga menjadi sorotan. Tim Publisitas, Dekorasi, dan Dokumentasi (PDD) yang dipimpin oleh Nur Fitri Ramlan(Piti) dan Nurul Hidayah merancang slide presentasi yang memadukan estetika meme internet dengan elemen budaya lokal, menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya informatif tapi juga menghibur.

“Ini bukan sekadar tugas. Ini adalah tanggung jawab kami sebagai mahasiswa komunikasi untuk membekali generasi muda dengan alat verifikasi yang mereka butuhkan. Kalau harus keluar uang pribadi, itu bukan masalah. Yang penting dampaknya nyata,” jelasnya, Muflih.

Ia menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar tugas kuliah biasa. Ketua Kelompok 5, Rain, secara pribadi menggelontorkan dana sebesar Rp 100.000 dari kantong sendiri untuk memastikan kegiatan berjalan optimal, termasuk untuk hadiah interaktif bagi siswa yang aktif berpartisipasi. Pengorbanan ini mencerminkan filosofi Mepokoaso yang tidak hanya diajarkan, tapi juga dipraktikkan oleh para mahasiswa.

Muflih mengatakan, dalam kegiatan ini siswa diajak memahami bahwa melawan hoaks bukan sekadar tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi berbagai kompetensi.

Adapun urgensi kegiatan ini dilandasi oleh data empiris yang menunjukkan bahwa pemilih muda akan menjadi penentu hasil Pemilu 2029. Berdasarkan rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2026 yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kendari pada Juli 2026, total Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kota Kendari mencapai 257.766 pemilih.

Angka ini menunjukkan dominasi signifikan dari Generasi Z dan Milenial yang diproyeksikan akan mencakup lebih dari 60 persen total pemilih nasional pada Pemilu 2029.

Sementara itu, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, pengguna internet Indonesia telah menembus 229,4 juta orang dengan tingkat penetrasi 80,66 persen, di mana Gen Z dan Milenial menjadi kelompok pengguna paling dominan.

Berdasarkan data KPU Kota Kendari, total 257.766 pemilih akan berpartisipasi dalam Pemilu 2029, dan mayoritas adalah generasi muda yang sangat rentan terhadap manipulasi informasi berbasis AI. “Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori komunikasi politik, tetapi juga turun ke lapangan melakukan mitigasi nyata. Pemilih pemula harus dilatih untuk menjadi auditor informasi, bukan konsumen pasif,” katanya.

Ada pun output kegiatan, untuk peningkatan pemahaman siswa tentang critical AI literacy yang diukur melalui sesi tanya jawab interaktif. Lalu, produksi konten edukatif berbasis budaya lokal yang siap didiseminasikan melalui media sosial.

Kemudian, dokumentasi lengkap dalam bentuk foto dan video kegiatan yang akan diunggah ke repository akademik FISIP UHO dan rekomendasi kebijakan kepada KPU Kota Kendari dan Bawaslu Kota Kendari mengenai strategi mitigasi disorder information bagi pemilih pemula menjelang Pemilu 2029

“Kegiatan ini merupakan bagian dari Pekan Literasi AI Pemilu yang dilaksanakan serentak di enam sekolah menengah atas Kota Kendari pada 14 hingga 18 September 2026, meliputi SMAN 8 Kendari, SMAN 1 Kendari, SMKN 1 Kendari, SMAN 5 Kendari, SMAN 9 Kendari, dan SMKN 4 Kendari,” tutup Septiana. (Imn)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA
    x